Senin, 16 Desember 2013

Senin, 21 Oktober 2013

Ada Apa Denganmu?


repost!


Bila karena merusa kesehatan, rokok kalian benci.
Mengapa kalian diamkan korupsi yang merusak nurani?

Bila karena memabokkan, alkohol kalian perangi.
Mengapa kalian biarkan korupsi yang kadar memabokkannya jauh lebih tinggi?

Bila karena najis, babi kalian musuhi.
Mengapa kalian abaikan kourpsi yang lebih menjijikkan ketimbang kotoran seirbu babi.

(Gus Mus, "ada apa dengan kalian")




Karena Pers Itu ANJING . . . . . . .

Beberapa waktu yang lalu ketika sedang ngobrol ringan dengan seorang teman sembari menonton televisi yang kala itu sedang menyiarkan program acara berita kriminal, teman gue sempat berujar “apaan sih berita di tv ini, cuma keburukan aja kayanya yg ditampilin” .  Pernyataan teman gue pun gue tanggapi secara sederhana dengan “yah program acaranya aja emang ngebahas hal begituan, terus ngapa masih lu tonton?” seketika dia pun mengubah-ubah channel televise, berharap terdapat program acara yg disukainya.

Ngapa sih pers suka ngeberitaian sesuatu yang salah daripada yang benar?
Yang bobrok daripada keteraturan?
Pelanggaran daripada ketaatan? 
Kegagalan daripada kesuksesan?
Dan kejahatan daripada kebaikan?

Pada tulisan sederhana kali ini gue mau coba sharring apa yang gue tau. Jawaban dari segelintir pertanyaan diatas menurut gue sih simple, oleh karena salah satu fungsinya pers situ sendiri adalah control sosial. Ya, control sosial, pers sering berperan sebagai anjing penjaga (watch dog). Pers melakukan kritik dan koreksi terhadap segala sesuatu yang menurutnya tidak beres dalam segala bidang persoalan. Pandangan seperti yang diutarakan dalam segelintir pertanyaan diatas Cuma ngelihat peran & funsi pers dengan tidak komprehensif, Cuma sebatas parsial dan too old school  dengan ngasumsiin kalo khalayak pembaca itu Cuma kumpulan orang bodoh yang mau begitu aja disuapi informasi pers seburuk apa pun. Mayoritas  khalayak pembaca gue rasa kumpulan orang yg kritis, ya walaupun gak seluruhnya demikian. Oleh sebab itu, mereka juga nyeleksi informasi-informasi yg sampai kepadanya melalui pers dengan berbagai kriterianya masing-masing. Simpelnya begini, informasi yg tidak mencerdaskan dan memperluas pengetahuan cenderung ditinggalin atau hanya dibaca oleh kelompok masyarakat yg kurang dalam pendidikan dan pengetahuan. Nah kalo udah tau kau gak suka tapi masih kau tonton atau baca gimana? Kusebut kau bodoh pun itu kenyataan :v






Lembaga pers sering dianggap sebagai pilar keempat demokrasi. Kebebasan pers menurut gue jadi syarat mutlak agar pers secara optimal mungkin bisa melakukan peranannya. Coba bayangin gimana pers dapat dijalanin kalo enggak ada jaminan terhadap kebebasan pers? Ya, beresiko memang, bisa – bisa malah menjadi terlalu bebas, seorang novelis terkenal asal Prancis, Albert Camus, pernah mengatakan bahwa pers bebas bisa baik dan bisa pula buruk, namun tanpa pers bebas yang ada hanya celaka.

Akhir kata terima kasih buat yang sudah mau baca, saya pamit diri, terlalu banyak bicara akan banyak pula kesalahan yang dibuat, dosa pun menumpuk.

@ndruuHC
21 Oktober 2013, 22:40 WIB






Minggu, 18 November 2012

Sepultura, Psms, David Kennedy AVA in Djarum Rock Fest 2012 (Cerita Belakang Layar)

Perjalanan ini dimulai ketika diri ini dilanda keraguan untuk bertolak ke Jakarta me'restart' beban otak karena urusan di kampus yang datang silih berganti. Hari itu kamis tanggal 9 november 2012, sepulangnya gue dari rumah kos teman kampus dibilangan Rajabasa, tidak jauh dari kampus Universitas Lampung tiba-tiba henpon gue berdering dengan nada khas seriosa ala Andrea Bocelli yang terdengar lantang terdengar, sontak gue kaget melihat nomor yang tertera di layar henpon dengan panggilan dengan nomor awal +62251. Dalam hati gue bergumam "bah! nomor mana ini? kode area mana? apa gue menang kuis djarum rock fest kemarin ya?" gue yang ketika itu sedang menunggangi Bruno (motorhead kesayangan gue) langsung segera menjawab telpon dari nomor yang nggak gue kenal itu dan benar saja, telpon tadi adalah pemberitahuan pemenang kuis dari pihak vendor djarum super yang menangani acara djarum rock fest 2012 yang akan digelar lusa.

"hahaha~ mayan mayan SEPULTURA eui! gaek! legends! oldskull!"
Sepanjang perjalanan gue pulang gue berusaha memutar kembali ingatan jangka panjang gue dengan Sepultura. pertanyaan kalasik macam kenapa gue suka sepultura gue tanyakan kembali ke diri gue sendiri.


Esok harinya, jumat malam gue pun berangkat bersama teman pankrox asal pringsewu yang biasa gue panggil pakde. Sebelumnya kami berdua memang merencanakan untuk pergi ke Jakarta untuk menghadiri event Pesta Media yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) di Galeri Nasional JKT di hari yang sama tetapi karena pemberitahuan sebagai pemenang free pass djarum rock fest ini, gue terpaksa mengurungkan niat gue untuk menghadiri acara Pesta Media dan bertolak ke Senayan untuk hura hura (sori ya pakde! hahaa~).

Sabtu sore itu gue datang dengan gembira, bermodalkan 3500 gue bisa mencapai venue Djarum Rock Fest yang dihelat di Lapangan D Senayan itu. Sepanjang perjalanan dari pintu masuk senayan ke venue acara (mayan jauh mayan) gue menemui banyak pasukan - pasukan kiamat yang memakai baju hitam *halah (baca: Troops Of Doom, salah satu lagu gaek Sepultura di awal kemunculannya) dan satu hal absurd gue temui saat itu bersama seorang bapak - bapak yang kalo dilihat dari tampilannya macam anak buah Hercules Rosario yang lagi ngejaga parkiran konser!

                        Bapak yang gue kira anak buah Herculez: Dek udah punya tiket?
                        gue: udah pak
                        Bapak yang gue kira anak buah Herculez: ini ada tiket nih, korting deh
                        gue: enggak pak, udah punya
                        Bapak yang gue kira anak buah Herculez: kalo ada kasih saya ya dek, saya mau nonton juga
                        gue: *bergumam dalam hati* "loh? lau ini calo tiket kok minta tiket! fak!"

gue pun ngeloyor bergegas mencapai gate venue yang nggak jauh didepan mata gue, disitu gue sudah berjanji temu muka dengan sosok bernama Rian yang telpon gue sebelumnya. Gue pun dikasih dua buah free pass yang bebas gue gunakan (mau dikasih teman bisa, buat nonton PSMS besoknya juga boleh) ohya, FYI PSMS itu projekannya Mike Portnoy 'Ex-Dream Theatre' bersama kance lamanya Derek Sherenian di band yang sama serta Billy Sheehan dari MR.Big. Ya, meskpun secara pribadi gue tidak menyukai aliran njelimet macam itu dan alhasil esoknya sebuah opera proggresive dari PSMS dengan terpaksa gue tonton.

balik lagi ke #Day1, gue yang saat itu datang sendirian dan kayanya memang ke'pagi'an buat dateng terpaksa jalan jalan kecil mengitari arena venue yang memang cukup asing dan luas bagi gue. Tidak berada jauh dari pintu masuk, di bagian kanan kita bisa liat berbagai macam booth-booth yang menjual merchandise band, alat musik sampai beer. Sementara dibagian kiri terdapat sebuah banner acara yang digunakan oleh sebagian besar orang untuk mengabadikan gambar sebagai tanda 'Trisno Was Here, blablabla was.... bukan nama sebenarnya'.  Kemudian Whatever Stage sebagai welcoming stage berada ditengah ujung jalan dari keduanya.

Masuk lebih kedalam ternyata dua stage nan megah sudah berdiri menantang penonton yang masuk, hilir mudik SPG menyegarkan suasana sore itu. *phuh kece kece sumpah, ini baru spg! :p

Sekian banyak band yang menjadi headliner di ketiga panggung, tidak ada nama besar yang gue ketahui yang mungkin juga dapat berfungsi sebagi 'penarik massa' untuk hadir bagi penonton lain. Mungkin hanya RI 1 (Roy, Ivan Boomerang bersatu), Trashline serta 7 Kurcaci yang gue lihat sebagai nama besar wakil dari scene independent atau mayor. Yang lainnya? entahlah, memang gue yang kurang memperhatikan lagi band ke'kini'an atau
*BERSAMBUNG


@ndruuHC
Senin, 19 November 2012








Rabu, 03 Oktober 2012

Lirik: Homicide - Tantang Tirani

Homicide: Aktif mengkritik sejak 1994 hingga 2007


Homicide? terdengar asing memang untuk ukuran pengetahuan musik teman teman dizaman sekarang. Kelompok Hip Hop Bandung ini memang sudah sejak tahun 2007 dibubarkan oleh om Heri Sutresna atau biasa kita kenal dengan UCOK Homicide.

Memahami pikiran Ucok sama halnya menyelami dalamnya samudera pasifik, tak berbatas!
Kemunculannya pada dekade 1994 memberikan kejutan bagi dunia musik di Indonesia, khususnya lagi musik hip-hop. Homicide dikenal karena lirik-liriknya yang tidak biasa dan kritik-kritiknya yang sangat tajam akan kondisi sosial maupun politik yang terjadi. Lirik Homicide begitu tajam dan sangat mengena kesetiap obyek yang dikritiknya, sesuatu yang sangat jarang ditemui dalam berbagai varian band musik yang ada di Indonesia. Apa yang dilakukan Homicide ini tentu bukan tanpa resiko, apalagi mengingat kondisi sosial yang kurang demokratis, tidak terbuka, serta tidak terbiasa dengan berbagai bentuk perdebatan dan argumentasi. Namun semua itu tidak membuat nyali Homicide ciut dan berhenti berkreasi saat itu.

Kayanya yang ngaku dirinya aktivis aktipis atau apalah tai kucing macam itu, baiknya dengar ini lagu homicide. Ya, saran sih untuk mengembangkan pola pikir saja biar itu pikiran jangang standar serdadu. coba berfikir jendral lah! <---- sok paham -.-
ohya, catatan buat yang baru akan menyelami homicide, siapkan mental dulu yaa, ini band luar biasa menurut gua, bagi mereka yang otaknya tumpul terpakai buat mikir politik praktis tak usah coba coba deh, salah interpretasi nanti!
hahaa~ smartass!



LIRIK BULAN INI
- KARENA SETIAP AKSARA MEMBUKA JENDELA DUNIA -
Apa yang kamu interpretasikan denga gambar ini?

Artist: Homicide
Tittle: Tantang Tirani
  • [Spoken]
    Ini adalah monumen tengat kesabaran dan angkara
    Satu barisan, ribuan mimpi
    Titik berangkat yang tak pernah dapat kami datangi kembali
    Terbuang serupa fotokopian pamflet aksi di setiap perempatan
    Harapan kami akan berakumulasi menyaingi nyalak senapan kalian!
    Kami merayap dalam lamat menyaingi hantu-hantu pesakitan
    Hingga waktu kalian mencapai tengat…

    Titipan angkara mereka yang tak bisa lagi bersuara
    Ini muara seluruh murka lawas yang kehilangan nyawa
    Dalam hitungan langkah kami akan isi angkasa
    Dengan ribuan pekik yang sama saat kalian terbakar bersama bara
    Terlalu kentara manuver mereka memplot penjara
    Hukum, moral, kebebasan, batas surga dan neraka
    Merancang kontrol bawah sadar serupa bius pariwara
    Menjagai setiap inci palang pintu modal dengan tentara
    Sebelum waktu yang banal jumud berkanal
    Semua momen heroik yang tak pernah tercatat dalam tanggal
    Biarkan mereka lafaz semua peringatan yang mereka hafal
    Setiap ayat pasal karet pertahanan para tiran berpangkal
    Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
    Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran
    Saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan di tengah medan
    Kawan, mana kepalan kalian?!

    [Chorus]
    Serupa biksu Burma di hadapan moncong senapan
    Serupa malam Januari yang menandai Chiapas
    Serupa seruan Chavez di depan muka Amerika
    Serupa tangan Intifadha yang melempar batu di Palestina
    Serupa siklus ronta kota pasca Genoa
    Serupa rudal Hizbullah di daerah pendudukan
    Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan

    Kami menolak menjadi bidak, sekedar sekrup dan tumbal
    Target pemasaran sampah industri kapitalis global
    Sekedar hidup lurus dalam dikte penguasa arus
    Sekedar kalian tahu kami akan bertahan sampai mampus
    Kalian awetkan hegemoni dengan balsam mumi anti-teror
    Kombinasi intel dan preman menebar horor
    Kalian kerangkeng kami dengan pembenaran semantik
    Kami rancang kalam puitik yang lebih bersenjata dari ribuan manifesto politik
    Kaya semakin kaya, miskin semakin papa
    Kalian dapat berlindung di balik ocehan nasib dan samsara
    Lakukan apapun termasuk menjadi tuhan
    Kami akan berdiri di sini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan
    Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
    Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran
    Saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan di tengah medan
    Kawan, mana kepalan kalian?!

    [Chorus]
    Serupa kesabaran terakhir para buruh di palang pintu pabrik
    Serupa panen terakhir para petani penggarap
    Serupa tengat miskin kota di ujung penggusuran
    Serupa pilihan terakhir Pasifis di hadapan ancaman pasar
    Serupa harapan mereka yang tak bisa lagi berharap
    Serupa pilihan terakhir keluarga korban kekerasan negara
    Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan

    [Spoken II]
    Kami akan bangun kembali godam dari reruntuhan dan berangkal harapan
    Keyakinan yang menyaingi semua manual langitan
    Esok akan terlalu terlambat, hari ini atau tidak sama sekali!
    Meski kalian coba bunuh kami berkali, kami akan lahir berkali bergenerasi
    Harapan meski sebutir pasir di lautan yang menyapa setiap kawan
    Dan menagih setiap jemari yang pernah menjanjikan kepalan
    Untuk menggetarkan nyali para tiran!

    [Soundclip dari orasi di lapangan]
    Kawan-kawan, dengarkan kawan-kawan!
    Komando ada di tangan saya, jangan terpancing provokasi!
    Kawan-kawan, tunjukkan pada mereka kita tak akan bergeming hari ini, kawan-kawan!
    Komando ada di tangan saya. Satu langkah untuk pembebasan!
    Hitung mundur dari sekarang!!

Ada yang bilang Homicide itu Atheis,  Komunisme Bentuk Baru, Agnostik dan lain sebagainya COBA KALIAN DENGARKAN SAJA LAGU MEREKA UNTUK TAHU APA HOMICIDE ITU !

Homicide in actions !



Rabu, 03 Oktober 2012
23:08