VARIANT RASA
- EVENT (1)
- FEATURE (2)
- Foto (3)
- Lirik Bulan Ini (5)
- MUSIC (4)
- National Board for The Placement and Protection of Indonesian Overseas Workers (28)
- PROJECT (5)
- SHARE (15)
- TASK's (12)
Rabu, 11 November 2015
TIDUR DIMANAPUN BERMIMPI KAPANPUN
LIRIK BULAN INI
- KARENA SETIAP AKSARA MEMBUKA JENDELA DUNIA -
ku tertidur dimanapun aku bisa
ku bermimpi kapanpun ku mau
ku bermimpi kapanpun ku mau
di atas lemari
di trotoar jalan
di sela tumpukan benda di gudang
di trotoar jalan
di sela tumpukan benda di gudang
di sesak bis kota
di guncang mikrolet
di bangku taman di buai anginnya, anginnya…
di guncang mikrolet
di bangku taman di buai anginnya, anginnya…
ku tertidur dimanapun aku bisa
ku bermimpi kapanpun ku mau
ku bermimpi kapanpun ku mau
di atas samudra
di tebing yang curam
di atas pasir di tepian pantai
di tebing yang curam
di atas pasir di tepian pantai
di halte jalanan
di stasiun kereta
di meja makan walau sejenak, sejenak......
Lirik Morfem: TIDUR DIMANAPUN BERMIMPI KAPANPUN
Mungkin inilah gambaran dirinya kini, pria yang dahulu menghabiskan waktunya merusak organ-organ didalam tubuhnya dengan begadang kini sudah mulai melemah. Efek dini, mungkin.Ada kata yang dicetak lebih tebal dari kata lainnya oleh pria itu, sejenak.
Seorang teman di ibukota pernah berujar "Orang yang sering tidur itu sebetulnya punya banyak pikiran, tidur menjadi pengalihan atas pikiran-pikiran dikepalanya yang membelenggu"
Bisa jadi masuk akal, tapi untuk si pria tadi? entahlah
Mungkin raganya yang memang butuh waktu sejenak untuk sekedar tidur.
"It is not the mountain we conquer but ourselves."
"It is not the mountain we conquer but ourselves."
Sir Edmund Percival Hillary (20 July 1919 – 11 January 2008)
Harapan, impian dan tujuan manusia pada prinsipnya jauh lebih tinggi dan berat bahkan tidaklah terukur, jika dibanding dengan gunung tertinggi di dunia sekalipun
Selasa, 10 November 2015
Lampung Siap Optimalkan Kualitas Layanan Penempatan & Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia
Lampung, BNP2TKI, Selasa (10/11) -- Untuk mengoptimalkan kualitas layanan penempatan dan perlindungan tenaga kerja ke luar negeri, BP3TKI Lampung mengadakan rapat koordinasi pemantapan Layanan Terpadu Satu Pintu (LTSP) di wilayah kerja.
Rapat koordinasi difasilitasi oleh pemerintah propinsi Lampung dan diselenggarakan di ruang rapat asisten III bidang Kesra Seretariat daerah Propinsi Lampung pada senin (09/11).
Pertemuan antara para pemangku kepentingan dalam rangka implementasi pelaksanaaan LTSP tersebut dilaksanakan mengingat telah disahkannya Peraturan Gubernur Nomor 55 tahun 2015 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Provinsi Lampung pada 02 november 2015.
Instansi pendukung LTSP yang hadir pada rapat koordinasi diantaranya Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Propinsi Lampung, perwakilan Polda Lampung, Bappeda, Dinas Kesehatan, serta Biro pada Sekretariat Daerah Propinsi Lampung. Turut hadir, Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi Kerjasama BNP2TKI, Yunafri Agus serta Haposan Saragih, Direktur Kerjasama dan Verifikasi Penyiapan Dokumen (KVPD) BNP2TKI.
Pembahasan mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur pelaksana dalam LTSP menjadi topik dalam rapat koordinasi. Para peserta yang hadir mewakili unit kerjanya menyatakan kesiapannya untuk menyiapkan SDM serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan LTSP.
BP3TKI Lampung dengan dukungan dari setiap unsur pelaksana LTSP menyatakan komitmennya untuk memberikan pelayanan yang cepat, mudah, murah, dan aman bagi setiap CTKI dan TKI.
Harapannya pelaksanaan LTSP penempatan & perlindungan tenaga kerja Indonesia bisa mengurangi jumlah TKI bermasalah dan TKI non prosedural. Karena tidak dipungkiri keberadaan TKI non prosedural juga tidak terlepas dari sulitnya para TKI mendapatkan pelayanan yang cepat, mudah, murah, dan aman ketika mengurus proses keberangkatan, sehingga banyak para TKI mencari jalan lain di luar jalur yang berlaku untuk berangkat ke Luar Negeri.
Oleh karena itu dipandang perlu untuk memberikan layanan penempatan, perlindungan dan perluasan kesempatan kerja secara terpadu dan terkoordinasi.
“Saat ini kesiapan infrastruktur bangunan LTSP sudah 80% siap, namun kesiapan dari instansi pendukung masih dalam tahap koordinasi dengan Instansi Pusat guna kesiapan perangkat operasional dan elemen pendukung lainnya” ungkap Kepala BP3TKI Lampung, Sri haryanti.***(Humas/BP3TKI-LAMPUNG/ASBG)
Rapat koordinasi difasilitasi oleh pemerintah propinsi Lampung dan diselenggarakan di ruang rapat asisten III bidang Kesra Seretariat daerah Propinsi Lampung pada senin (09/11).
Pertemuan antara para pemangku kepentingan dalam rangka implementasi pelaksanaaan LTSP tersebut dilaksanakan mengingat telah disahkannya Peraturan Gubernur Nomor 55 tahun 2015 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Provinsi Lampung pada 02 november 2015.
Instansi pendukung LTSP yang hadir pada rapat koordinasi diantaranya Kepala Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Propinsi Lampung, perwakilan Polda Lampung, Bappeda, Dinas Kesehatan, serta Biro pada Sekretariat Daerah Propinsi Lampung. Turut hadir, Kepala Biro Perencanaan dan Administrasi Kerjasama BNP2TKI, Yunafri Agus serta Haposan Saragih, Direktur Kerjasama dan Verifikasi Penyiapan Dokumen (KVPD) BNP2TKI.
Pembahasan mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur pelaksana dalam LTSP menjadi topik dalam rapat koordinasi. Para peserta yang hadir mewakili unit kerjanya menyatakan kesiapannya untuk menyiapkan SDM serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan LTSP.
BP3TKI Lampung dengan dukungan dari setiap unsur pelaksana LTSP menyatakan komitmennya untuk memberikan pelayanan yang cepat, mudah, murah, dan aman bagi setiap CTKI dan TKI.
Harapannya pelaksanaan LTSP penempatan & perlindungan tenaga kerja Indonesia bisa mengurangi jumlah TKI bermasalah dan TKI non prosedural. Karena tidak dipungkiri keberadaan TKI non prosedural juga tidak terlepas dari sulitnya para TKI mendapatkan pelayanan yang cepat, mudah, murah, dan aman ketika mengurus proses keberangkatan, sehingga banyak para TKI mencari jalan lain di luar jalur yang berlaku untuk berangkat ke Luar Negeri.
Oleh karena itu dipandang perlu untuk memberikan layanan penempatan, perlindungan dan perluasan kesempatan kerja secara terpadu dan terkoordinasi.
“Saat ini kesiapan infrastruktur bangunan LTSP sudah 80% siap, namun kesiapan dari instansi pendukung masih dalam tahap koordinasi dengan Instansi Pusat guna kesiapan perangkat operasional dan elemen pendukung lainnya” ungkap Kepala BP3TKI Lampung, Sri haryanti.***(Humas/BP3TKI-LAMPUNG/ASBG)
source: bnp2tki.go.id
Minggu, 08 November 2015
BP3TKI Lampung Monitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan
Bandarlampung, BNP2TKI, Kamis (05/11) -- BP3TKI Lampung rampungkan 10 paket pemberdayaan TKI-B/WNI-O. Kegiatan yang bersumber dari APBN-P ini kini memasuki masa monitoring dan evaluasi.
Professional bisnis dari berbagai jenis bidang usaha telah digandeng BP3TKI Lampung seperti pembudidayaan dan pengolahan jamur, pembuatan aneka makanan ringan, kerajinan bambu serta penggemukan ternak.
Dalam kesepakatan bersama yang ditandatangani oleh mitra yang terdiri dari professional bisnis, lembaga pembiayaan serta pendamping lokal, mitra lokal sepakat untuk membimbing para peserta pemberdayaan yang sebelumnya telah diberikan pengetahuan mengenai berbagai macam bidang usaha sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya.
Selama dua bulan para mitra tersebut akan terus berkoordinasi dan bersinergi dibawah pengawasan dari BP3TKI Lampung agar program pemberdayaan yang diikuti oleh peserta dapat berjalan secara mandiri.
Kesepakatan bersama oleh para mitra lokal dan kelompok tenaga kerja Indonesia purna merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan TKI secara optimal serta guna meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya.
Saat ini, para peserta program pemberdayaan masih dalam pendampingan agar terus berikhtiar mengembangkan usahanya.
Toriyah, ketua kelompok dari Kelompok TKI Purna “Sukses Mandiri” asal Kabupaten Pringsewu ketika dihubungi melalui telepon mengakui saat ini usaha pembuatan rengginang yang dirintis bersama rekan kelompoknya sesama peserta pemberdayaan telah berjalan selama satu bulan.
“Sehari kita bisa buat sekitar 900 rengginang, mas” ujar toriyah. Lebih lanjut toriyah mengatakan sampai dengan bulan ini kelompoknya sudah membuat sekitar 10.000 rengginang yang pemasarannya masih diserahkan kepada Rabbani Snack, salah satu professional bisnis asal Kabupaten Pringsewu yang digandeng BP3TKI Lampung.
BP3TKI Lampung akan terus mengupayakan agar monitoring dan evaluasi terhadap kelompok-kelompok ekonomi produktif ini berjalan secara terintegrasi sampai kelompok dapat berjalan secara mandiri.***(Humas-BP3TKI LAMPUNG/ASBG)
Professional bisnis dari berbagai jenis bidang usaha telah digandeng BP3TKI Lampung seperti pembudidayaan dan pengolahan jamur, pembuatan aneka makanan ringan, kerajinan bambu serta penggemukan ternak.
Dalam kesepakatan bersama yang ditandatangani oleh mitra yang terdiri dari professional bisnis, lembaga pembiayaan serta pendamping lokal, mitra lokal sepakat untuk membimbing para peserta pemberdayaan yang sebelumnya telah diberikan pengetahuan mengenai berbagai macam bidang usaha sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya.
Selama dua bulan para mitra tersebut akan terus berkoordinasi dan bersinergi dibawah pengawasan dari BP3TKI Lampung agar program pemberdayaan yang diikuti oleh peserta dapat berjalan secara mandiri.
Kesepakatan bersama oleh para mitra lokal dan kelompok tenaga kerja Indonesia purna merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan dan mendayagunakan TKI secara optimal serta guna meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya.
Saat ini, para peserta program pemberdayaan masih dalam pendampingan agar terus berikhtiar mengembangkan usahanya.
Toriyah, ketua kelompok dari Kelompok TKI Purna “Sukses Mandiri” asal Kabupaten Pringsewu ketika dihubungi melalui telepon mengakui saat ini usaha pembuatan rengginang yang dirintis bersama rekan kelompoknya sesama peserta pemberdayaan telah berjalan selama satu bulan.
“Sehari kita bisa buat sekitar 900 rengginang, mas” ujar toriyah. Lebih lanjut toriyah mengatakan sampai dengan bulan ini kelompoknya sudah membuat sekitar 10.000 rengginang yang pemasarannya masih diserahkan kepada Rabbani Snack, salah satu professional bisnis asal Kabupaten Pringsewu yang digandeng BP3TKI Lampung.
BP3TKI Lampung akan terus mengupayakan agar monitoring dan evaluasi terhadap kelompok-kelompok ekonomi produktif ini berjalan secara terintegrasi sampai kelompok dapat berjalan secara mandiri.***(Humas-BP3TKI LAMPUNG/ASBG)
SOURCE: BNP2TKI.GO.ID
Selasa, 13 Oktober 2015
Ikhtiar Membangun Kemandirian Ekonomi TKI di Kabuputen Lampung Timur
| Imam Nahrowi, TKI dari Korea Selatan 2002 yang kini sukses sebagai pengusaha dan pengembangan pasar TKI |
Lampung,
BNP2TKI, Selasa (13/10) – Imam Nahrowi selama beberapa hari menjadi
bintang. Tutur katanya menjadi mantra, sementara tayangan berbagai stasiun
televisi mengenai dirinya disimak para peserta pertemuan dengan penuh
kekaguman. Mantan TKI di Korea Selatan itu sukses membius peserta pelatihan
dengan berbagai kisah dan motivasi. Semuanya disampaikan pada kegiatan
pelatihan pemberdayaan TKI-B/WNI-O di desa Margosari Kecamatan Metro Kibang
(8/10) dan Desa Batang Harjo Kabupaten Lampung Timur (7/10).
BP3TKI Lampung sengaja mengundang Imam Nahrowi, yang kini menjadi pengusaha sukses sebagai narasumber latihan pemberdayaan tersebut.
Menurut Imam, menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri umumnya bukan merupakan cita-cita. Dengan kata lain, menjadi TKI merupakan keputusan yang diambil sebagai konsekuensi atas sulitnya mendapatkan pekerjaan di dalam negeri. Namun demikian, jika disertai dengan perencanaan yang matang sementara kiriman uang dikelola secara bijaksana dan penuh perhitungan, ketekunan serta kerja keras, maka menjadi TKI dapat menjadi batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pergi untuk menjadi TKI harus punya target. Dia berangkat menjadi TKI ke Korea Selatan pada tahun 2002 dengan target untuk mengubah kehidupan, karena gajinya sebagai pekerja di pabrik pengolahan pisang, tidak kunjung mencukupi, ujarnya. “Istri saya sempat berpesan dan memberi saya dua pilihan saat akan berangkat yaitu, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses atau pulang dengan malu karena disorakin tetangga gara-gara tidak sukses,” tutur Imam.
Membuat Pasar
Berbekal pesan dari sang istri tadi, Imam pun bekerja di perusahaan tekstil di Pusan, Korea Selatan. Tekad, usaha keras dan kejujuran membuat Imam bisa mengumpulkan modal untuk menjadi pengusaha. Sekembalinya dari Korea Selatan, memiliki sejumlah usaha dengan nilai milyaran rupiah. Saat ini Imam mempunyai toko bahan bangunan, ruko dan aset lainnya. Namun, yang membuatnya terkenal adalah keberhasilannya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI.
Pendirian pasar ini katanya, merupakan wujud prihatin karena banyak ditemukan mantan TKI yang kembali miskin setelah pulang ke kampung halamannya. Semuanya akibat para mantan TKI berperilaku konsumtif dan tidak bisa mengelola uang hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri. “Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha,” katanya.
Berulang kali Imam Nahrowi menyampaikan bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha sekecil apapun yang seseorang lakukan. Tayangan-tayangan mengenai dirinya di beberapa televisi nasional turut ditampilkan pula disela penyampaian materi. “Apa yang saya tampilkan di tayangan ini, semata-mata untuk memotivasi bapak-ibu untuk berkeyakinan memulai usahanya,” lanjutnya.
Membangkitkan semangat!
Nur Rohim, salah seorang peserta kegiatan pelatihan di Desa Margo Sari mengungkapkan kekagumannya kepada niat, usaha dan keberhasilan Imam Nahrowi hingga bisa menjadi seorang pengusaha sukses. “Hari ini, pak Imam sukses membuat saya jadi punya keyakinan guna memulai usaha. Sekecil apapun niat nggak ada yang sia-sia kalau dilaksanakan,” ungkapnya kepada panitia pelaksana.
Dewasa ini BP3TKI Lampung menjadikan pengolahan industri kerajinan bambu dari Paguyuban Krajan dan Pengrajin Sangkar Burung Maju Lancar serta usaha penggemukan ternak sebagai materi utama dalam pelatihan edukasi pemberdayaan di Kabupaten Lampung Timur. Yang menggembirakan, para pengusaha tidak hanya memberikan pelatihan dan pengembangan usaha, namun juga siap untuk menampung hasil karya peserta pelatihan untuk dipasarkan.
“Diawal saya akan bantu pemasarannya, sampai bapak-ibu bisa mandiri dan mengembangkan pasarnya sendiri” ungkap Samadi, Pengurus Paguyuban Krajan, berulang kali di sela penyampaian materi.
Dalam proses pelatihan di kedua tempat ini, BP3TKI Lampung juga melibatkan dan mengintegrasikan berbagai potensi, seperti pengusaha lokal , Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lampung Timur, Dinas Koperasi & UMKM dan Lembaga Keuangan Mikro (BMT) dengan harapan peserta pelatihan tersebut akan menemukan potensinya untuk mandiri karena terintegrasi dengan potensi ekonomi setempat.***(Humas - BP3TKI Lampung/ASBG)
BP3TKI Lampung sengaja mengundang Imam Nahrowi, yang kini menjadi pengusaha sukses sebagai narasumber latihan pemberdayaan tersebut.
Menurut Imam, menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri umumnya bukan merupakan cita-cita. Dengan kata lain, menjadi TKI merupakan keputusan yang diambil sebagai konsekuensi atas sulitnya mendapatkan pekerjaan di dalam negeri. Namun demikian, jika disertai dengan perencanaan yang matang sementara kiriman uang dikelola secara bijaksana dan penuh perhitungan, ketekunan serta kerja keras, maka menjadi TKI dapat menjadi batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pergi untuk menjadi TKI harus punya target. Dia berangkat menjadi TKI ke Korea Selatan pada tahun 2002 dengan target untuk mengubah kehidupan, karena gajinya sebagai pekerja di pabrik pengolahan pisang, tidak kunjung mencukupi, ujarnya. “Istri saya sempat berpesan dan memberi saya dua pilihan saat akan berangkat yaitu, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses atau pulang dengan malu karena disorakin tetangga gara-gara tidak sukses,” tutur Imam.
Membuat Pasar
Berbekal pesan dari sang istri tadi, Imam pun bekerja di perusahaan tekstil di Pusan, Korea Selatan. Tekad, usaha keras dan kejujuran membuat Imam bisa mengumpulkan modal untuk menjadi pengusaha. Sekembalinya dari Korea Selatan, memiliki sejumlah usaha dengan nilai milyaran rupiah. Saat ini Imam mempunyai toko bahan bangunan, ruko dan aset lainnya. Namun, yang membuatnya terkenal adalah keberhasilannya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI.
Pendirian pasar ini katanya, merupakan wujud prihatin karena banyak ditemukan mantan TKI yang kembali miskin setelah pulang ke kampung halamannya. Semuanya akibat para mantan TKI berperilaku konsumtif dan tidak bisa mengelola uang hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri. “Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha,” katanya.
Berulang kali Imam Nahrowi menyampaikan bahwa tidak ada yang sia-sia dari usaha sekecil apapun yang seseorang lakukan. Tayangan-tayangan mengenai dirinya di beberapa televisi nasional turut ditampilkan pula disela penyampaian materi. “Apa yang saya tampilkan di tayangan ini, semata-mata untuk memotivasi bapak-ibu untuk berkeyakinan memulai usahanya,” lanjutnya.
Membangkitkan semangat!
Nur Rohim, salah seorang peserta kegiatan pelatihan di Desa Margo Sari mengungkapkan kekagumannya kepada niat, usaha dan keberhasilan Imam Nahrowi hingga bisa menjadi seorang pengusaha sukses. “Hari ini, pak Imam sukses membuat saya jadi punya keyakinan guna memulai usaha. Sekecil apapun niat nggak ada yang sia-sia kalau dilaksanakan,” ungkapnya kepada panitia pelaksana.
Dewasa ini BP3TKI Lampung menjadikan pengolahan industri kerajinan bambu dari Paguyuban Krajan dan Pengrajin Sangkar Burung Maju Lancar serta usaha penggemukan ternak sebagai materi utama dalam pelatihan edukasi pemberdayaan di Kabupaten Lampung Timur. Yang menggembirakan, para pengusaha tidak hanya memberikan pelatihan dan pengembangan usaha, namun juga siap untuk menampung hasil karya peserta pelatihan untuk dipasarkan.
“Diawal saya akan bantu pemasarannya, sampai bapak-ibu bisa mandiri dan mengembangkan pasarnya sendiri” ungkap Samadi, Pengurus Paguyuban Krajan, berulang kali di sela penyampaian materi.
Dalam proses pelatihan di kedua tempat ini, BP3TKI Lampung juga melibatkan dan mengintegrasikan berbagai potensi, seperti pengusaha lokal , Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lampung Timur, Dinas Koperasi & UMKM dan Lembaga Keuangan Mikro (BMT) dengan harapan peserta pelatihan tersebut akan menemukan potensinya untuk mandiri karena terintegrasi dengan potensi ekonomi setempat.***(Humas - BP3TKI Lampung/ASBG)
source: bnp2tki.go.id
Selasa, 29 September 2015
Mitra lokal Siap Fasilitasi Pemasaran Produk Peserta Pemberdayaan TKI di Pringsewu
Lampung, BNP2TKI, Rabu (29/09) - Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) melalui Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Lampung kembali melaksanakan pembukaan pelatihan Edukasi Pemberdayaan TKI-Bermasalah / WNI-Overstayers.
Pembukaan pelatihan gelombang II tahun anggaran 2015 ini dilaksanakan di Kabupaten Pringsewu, pada Selasa (29/09)
Pelatihan akan berlangsung selama 6 (enam) hari, dari tanggal 29 September hingga 4 Oktober 2015, yang diikuti 25 peserta yang berasal dari beberapa Kecamatan di wilayah Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.
Adapun pelaksanaaan pelatihan edukasi pemberdayaan TKI-B/WNI-O dengan melibatkan mitra lokal yaitu Rabbani Snack yang bergerak pada industri makanan ringan.
Kepala BP3TKI Lampung, Sri Haryanti, mengimbau para peserta agar mengikuti pelatihan dengan aktif dan bersemangat hingga kegiatan berakhir agar proses penyampaian informasi dapat berjalan secara maksimal dan ilmu yang didapat dapat diterapkan. “Output kegiatan ini terlihat ketika pelatihan ini menjadikan TKI sebagai wirausahawan baru,” ungkap Sri Haryanti.
Dalam proses pelatihan gelombang kedua ini, BP3TKI Lampung juga melibatkan dan mengintegrasikan kembali berbagai potensi lokal, seperti pengusaha lokal, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Pringsewu, Dinas Koperasi & UMKM dan Bank BRI dengan harapan peserta pelatihan tersebut akan menemukan potensinya untuk mandiri karena terintegrasi dengan potensi ekonomi setempat.
Selama enam hari, para peserta akan dibekali dengan materi kewirausahaan, mengelola keuangan, koperasi, serta teori dan praktik pembuatan rengginang, klanting dan tape ketan diitambah dengan kisah inspirasi TKI sukses yang akan disampaikan oleh Sulaiman, TKI purna yang kini bersatus sebagai Direktur Utama Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) asal Pringsewu, PT. Assalam karya Manunggal.
BP3TKI Lampung menjadikan pengolahan industri makanan ringan sebagai materi utama dalam pelatihan edukasi pemberdayaan di Kabupaten Pringsewu. Tidak hanya memberikan pelatihan dan pengembangan usaha, pemilikRabbani Snack, Bambang Rabbani, mengungkapkan bahwa perusahaannya siap untuk menampung hasil olahan makanan ringan tersebut untuk dipasarkan.
“Kelanjutannya, jika hasil olahan makanan sesuai dengan standar kita, maka kami siap memasarkannya” ungkapnya beberapa waktu lalu di kantor BP3TKI Lampung.
Rabbani Snack merupakan salah satu industri makanan ringan yang cukup sukses di Propinsi Lampung, beberapa produk andalannya seperti klanting, tape ketan, rengginang, untir-untir dan semprong sudah dapat dinikmati pada toko dan swalayan ternama seperti Alfamart, Chandra Superstore dan Yen Yen.*** (Humas - BP3TKI Lampung/ASBG)
Pembukaan pelatihan gelombang II tahun anggaran 2015 ini dilaksanakan di Kabupaten Pringsewu, pada Selasa (29/09)
Pelatihan akan berlangsung selama 6 (enam) hari, dari tanggal 29 September hingga 4 Oktober 2015, yang diikuti 25 peserta yang berasal dari beberapa Kecamatan di wilayah Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.
Adapun pelaksanaaan pelatihan edukasi pemberdayaan TKI-B/WNI-O dengan melibatkan mitra lokal yaitu Rabbani Snack yang bergerak pada industri makanan ringan.
Kepala BP3TKI Lampung, Sri Haryanti, mengimbau para peserta agar mengikuti pelatihan dengan aktif dan bersemangat hingga kegiatan berakhir agar proses penyampaian informasi dapat berjalan secara maksimal dan ilmu yang didapat dapat diterapkan. “Output kegiatan ini terlihat ketika pelatihan ini menjadikan TKI sebagai wirausahawan baru,” ungkap Sri Haryanti.
Dalam proses pelatihan gelombang kedua ini, BP3TKI Lampung juga melibatkan dan mengintegrasikan kembali berbagai potensi lokal, seperti pengusaha lokal, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Pringsewu, Dinas Koperasi & UMKM dan Bank BRI dengan harapan peserta pelatihan tersebut akan menemukan potensinya untuk mandiri karena terintegrasi dengan potensi ekonomi setempat.
Selama enam hari, para peserta akan dibekali dengan materi kewirausahaan, mengelola keuangan, koperasi, serta teori dan praktik pembuatan rengginang, klanting dan tape ketan diitambah dengan kisah inspirasi TKI sukses yang akan disampaikan oleh Sulaiman, TKI purna yang kini bersatus sebagai Direktur Utama Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) asal Pringsewu, PT. Assalam karya Manunggal.
BP3TKI Lampung menjadikan pengolahan industri makanan ringan sebagai materi utama dalam pelatihan edukasi pemberdayaan di Kabupaten Pringsewu. Tidak hanya memberikan pelatihan dan pengembangan usaha, pemilikRabbani Snack, Bambang Rabbani, mengungkapkan bahwa perusahaannya siap untuk menampung hasil olahan makanan ringan tersebut untuk dipasarkan.
“Kelanjutannya, jika hasil olahan makanan sesuai dengan standar kita, maka kami siap memasarkannya” ungkapnya beberapa waktu lalu di kantor BP3TKI Lampung.
Rabbani Snack merupakan salah satu industri makanan ringan yang cukup sukses di Propinsi Lampung, beberapa produk andalannya seperti klanting, tape ketan, rengginang, untir-untir dan semprong sudah dapat dinikmati pada toko dan swalayan ternama seperti Alfamart, Chandra Superstore dan Yen Yen.*** (Humas - BP3TKI Lampung/ASBG)
SOURCE: BNP2TKI.GO.ID
Langganan:
Postingan (Atom)
